Berita Terkini

SEMANGAT BARU DI BULAN SYAWAL, KPU NGAWI GELAR APEL DAN HALAL BIHALAL

kab-ngawi.kpu.go.id - Mengawali hari pertama kerja usai libur lebaran dan cuti bersama Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ngawi menggelar Apel Bersama pada Senin (30/3/2026). Kegiatan ini menjadi simbol kesiapan seluruh jajaran dalam melanjutkan mengawal demokrasi di Bumi Orek-orek. Bertempat di halaman kantor KPU Kabupaten Ngawi, apel dipimpin langsung oleh Janie Triangga Luh Praminto. Kegiatan ini diikuti dengan khidmat oleh seluruh jajaran pimpinan, Kepala Sub Bagian serta staf sekretariat dan pelajar PKL. Janie Triangga menekankan pentingnya pembaharuan semangat kerja dan penguatan hubungan antarpersonal di lingkungan kantor. "Momentum Idul Fitri ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk menghapus kesalahan selama setahun perjalanan kebersamaan kita. Mari kita mulai pola kerja yang lebih baik dengan hubungan antar rekan yang lebih harmoni." ujar Janie. Ia juga mengajak seluruh staf untuk membawa semangat kemenangan tersebut ke dalam tugas-tugas negara, demi memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Ngawi. Nuansa kekeluargaan sangat terasa usai pelaksanaan apel. Acara dilanjutkan dengan sesi Halal Bihalal di halaman kantor dengan prosesi yang hangat. Seluruh pimpinan KPU Ngawi berjajar di depan kantor menyambut para pegawai. Staf sekretariat bersalaman secara berputar menyalami pimpinan dan sesama rekan kerja, menunjukkan soliditas serta kebersamaan yang kuat. Sebagai penutup rangkaian acara sebelum memulai rutinitas kanto, seluruh keluarga besar KPU Ngawi menikmati hidangan khas lebaran berupa opor ayam, sebelum memulai aktifitas kerja. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi energi positif bagi seluruh personel KPU Ngawi untuk menghadapi agenda-agenda besar demokrasi ke depan dengan lebih solid dan profesional. (Dok Wening/Dhika/Bimo)

Catatan Peringatan : Hari Film Nasional dan Jejak Sejarah Bangsa dalam Layar Sinema

kab-ngawi.kpu.go.id – Ngawi (30/03/2026) – Peringatan Hari Film Nasional yang jatuh setiap tanggal 30 Maret bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan sebuah penghormatan terhadap identitas budaya dan kedaulatan bangsa melalui media visual. Sejarah mencatat bahwa film pertama yang diproduksi di Hindia Belanda adalah Loetoeng Kasaroeng (1926), namun film tersebut masih disutradarai oleh orang asing. Titik balik kedaulatan film Indonesia terjadi pada 30 Maret 1950, saat dimulainya pengambilan gambar pertama film "Darah dan Doa" (The Long March of Siliwangi). Film ini menjadi sangat bersejarah karena: Disutradarai oleh Usmar Ismail, tokoh yang kini dijuluki sebagai Bapak Perfilman Indonesia. Diproduksi oleh Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini). Mengangkat cerita dari sudut pandang perjuangan bangsa sendiri, bukan sudut pandang penjajah. Penetapan tanggal 30 Maret sebagai Hari Film Nasional secara resmi dikukuhkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 25 Tahun 1999 oleh Presiden B.J. Habibie, dengan tujuan meningkatkan kepercayaan diri serta kualitas film nasional. Peran Film dalam Pembangunan Bangsa dan Negara Film memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada sekadar hiburan. Dalam konteks pembangunan nasional, film menjalankan fungsi-fungsi strategis berikut: 1. Penjaga Identitas dan Budaya Bangsa Film adalah cermin budaya. Melalui narasi, bahasa, dan latar belakang yang ditampilkan, film memperkenalkan kekayaan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda dan dunia internasional. Ini menjadi alat soft power untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global. 2. Media Edukasi dan Literasi Masyarakat Film berperan sebagai sarana edukasi publik yang efektif. Pesan-pesan moral, sejarah perjuangan, hingga isu-isu sosial seperti toleransi dan lingkungan hidup lebih mudah dicerna oleh masyarakat luas melalui format visual yang menarik dibandingkan sekadar teks teoretis. 3. Penggerak Ekonomi Kreatif Industri perfilman menyerap ribuan tenaga kerja terampil, mulai dari penulis naskah, aktor, penata musik, hingga teknisi pascaproduksi. Pertumbuhan industri ini berdampak langsung pada peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) dari sektor ekonomi kreatif dan mendorong pariwisata melalui lokasi-lokasi syuting yang ikonik. 4. Perekat Persatuan dan Kesatuan Dalam keberagaman Indonesia, film sering kali mengangkat tema persatuan. Film bertema nasionalisme membantu memupuk rasa bangga terhadap tanah air dan memperkuat solidaritas antarsuku serta agama, yang merupakan fondasi utama stabilitas negara. Foto : Pemain Film Pertama 

BAKAR SEMANGAT PATRIOTISME: KPU NGAWI BEKALI KADER KORPS KADET REPUBLIK INDONESIA

kab-ngawi.kpu.go.id, Semangat bela negara berkobar di dada  siswa-siswi terpilih dari 10 SMA/SMK/MA se-Kabupaten Ngawi. Mereka mengikuti kegiatan Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI) Gelombang IV Kodam V/Brawijaya yang diselenggarakan oleh Kodim 0805/Ngawi. Acara dibuka oleh Dandim 0805/Ngawi, Letkol Arh Setu Wibowo. 100 orang generasi bangsa masa depan itu, mengikuti kegiatan yang berlangsung selama tiga hari yaitu dari tanggal 27–29 Maret 2026. Kegiatan tidak hanya fokus pada ketangkasan fisik, tetapi juga penguatan wawasan kebangsaan. Selain dari internal TNI, hadir pula Anggota KPU Kabupaten Ngawi Divisi Sosdiklih, Parmas, dan SDM, Janie Triangga Luh Praminto, untuk memberikan pembekalan khusus pada Sabtu (28/3/2026), dengan tema Demokrasi dan Nasionalisme sebagai bagian Wujud Nyata Bela Negara. Dalam sesi berlangsung interaktif. Di hadapan para kadet muda, ia menekankan bahwa membela negara di era modern tidak selalu soal angkat senjata, melainkan juga melalui partisipasi aktif dalam demokrasi, dan membawa ruh nasionalisme di profesi dan cita-cita setiap generasi muda. "Nasionalisme bagi generasi Z dan Alpha bukan sekadar hafalan teks, tapi aksi nyata. Menjadi pemilih yang cerdas dan memahami esensi demokrasi adalah cara kalian menjaga kedaulatan bangsa ini," ujar Janie di hadapan para peserta. Untyuk diketahui, selama diklat, para peserta ditempa dengan berbagai disiplin ala militer dan materi luar ruangan yang menantang, di antaranya Baris berbaris, Mountaineering untuk melatih ketangkasan, fisik, dan kerja sama tim. Ada juga Edukasi tentang Bahaya Narkoba, literasi Digital untuk mengajak siswa bijak bermedia sosial di tengah arus informasi. Pada bagian akhir rangkaian kegiatan, digelar Api Unggun menjadi sesi emosional yang membakar jiwa patriotisme peserta sebelum penutupan. Ditemui usai kegiatan, Janie mengungkapkan bahwa, keterlibatan KPU Ngawi dalam agenda Kodim 0805/Ngawi ini menunjukkan sinergi antar lembaga yang kuat dalam menyiapkan "Generasi Emas 2045". Dengan pemahaman demokrasi yang matang sejak dini, diharapkan para kadet ini menjadi pelopor rekan-rekannya untuk memiliki jiwa nasionalisme dan bela negara di era kekinian. (Dok Wening/Dhika/Bimo)

Bandung Lautan Api dan Semangat Rela Berkorban untuk Bangsa

Jejak Historis 24 Maret 2026 kab-ngawi.kpu.go.id – Ngawi (24/03/2026) – Peristiwa Bandung Lautan Api adalah salah satu momen heroik paling ikonik dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini terjadi pada 24 Maret 1946, di mana sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah dan harta benda mereka sebelum meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Berikut adalah uraian sejarah peristiwa tersebut dalam bentuk alur cerita. Awal mula konflik terjadi setelah pasukan Sekutu (Inggris) memasuki Bandung pada Oktober 1945. Ketegangan memuncak ketika Sekutu mengeluarkan ultimatum pertama pada 21 November 1945, yang menuntut agar Bandung bagian utara dikosongkan dari unsur bersenjata Indonesia. Ultimatum ini ditolak oleh para pejuang, yang memicu pecahnya pertempuran di berbagai sudut kota. Pada 23 Maret 1946, Sekutu mengeluarkan ultimatum kedua yang jauh lebih keras: memerintahkan seluruh kekuatan bersenjata dan rakyat Indonesia untuk meninggalkan Bandung bagian selatan. Menghadapi dilema antara menyerahkan kota atau bertahan dengan risiko hancur total oleh kekuatan militer Sekutu yang lebih besar, pemerintah RI dan para pejuang mengambil keputusan ekstrem. Mereka memilih untuk tidak membiarkan Bandung jatuh ke tangan musuh sebagai markas strategis, sehingga strategi "bumi hangus" pun diputuskan. Pada malam 24 Maret 1946, warga Bandung mulai meninggalkan rumah mereka. Sebelum pergi, mereka membakar bangunan-bangunan penting. Asap hitam membumbung tinggi dan api berkobar di mana-mana, mengubah kota menjadi "lautan api". Di tengah kobaran api, terjadi pertempuran sengit, salah satunya di gudang amunisi besar milik Sekutu di Desa Dayeuhkolot. Dua pejuang muda, Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan, gugur setelah berhasil meledakkan gudang tersebut dengan dinamit. Istilah "Bandung Lautan Api" sendiri pertama kali muncul di harian Suara Merdeka pada 26 Maret 1946. Pengorbanan besar rakyat Bandung ini menjadi simbol patriotisme yang luar biasa; mereka lebih memilih menghancurkan milik mereka sendiri daripada melihatnya dimanfaatkan oleh penjajah. Peristiwa ini juga menginspirasi terciptanya lagu perjuangan "Halo, Halo Bandung" yang membangkitkan semangat nasionalisme hingga saat ini. (Sumber Foto : Gramedia)

Hari Hutan Sedunia dan Masa Depan Lingkungan

Jejak Historis 21 Maret 2026 kab-ngawi.kpu.go.id – Ngawi (21/03/2026) – Hari Hutan Sedunia, atau International Day of Forests, diperingati setiap tanggal 21 Maret sebagai momentum global untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kelestarian seluruh jenis hutan di bumi. Gagasan ini pertama kali muncul pada tahun 1971 melalui konferensi Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), namun baru pada 28 November 2012, Majelis Umum PBB secara resmi menetapkan peringatan tahunan ini yang dimulai sejak tahun 2013 guna mendorong aksi nyata dalam konservasi hutan. Hutan memegang peranan krusial sebagai tulang punggung ekosistem dunia karena berfungsi menyediakan oksigen, mengatur iklim global, dan menjadi rumah bagi 80% keanekaragaman hayati darat. Keberadaan hutan sangat vital bagi kelangsungan hidup manusia, di mana lebih dari 1,6 miliar orang, termasuk masyarakat adat, menggantungkan mata pencaharian mereka secara langsung pada sumber daya hutan. Namun, saat ini hutan menghadapi ancaman serius akibat deforestasi yang mengakibatkan hilangnya sekitar 13 juta hektar lahan hijau setiap tahunnya. Kerusakan ini tidak hanya menghilangkan habitat spesies langka, tetapi juga memperburuk perubahan iklim karena hutan merupakan penyerap karbon utama; tercatat bahwa deforestasi bertanggung jawab atas 12 hingga 18 persen emisi karbon dunia. Melalui tema tahunan yang dinamis, seperti fokus pada "Hutan dan Inovasi" di tahun 2024, dunia diajak untuk memanfaatkan teknologi baru dalam melindungi ekosistem ini. Peringatan Hari Hutan Sedunia menjadi pengingat bahwa menjaga kelestarian hutan bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh lapisan masyarakat demi mewujudkan warisan alam yang berkelanjutan bagi generasi masa depan. No Kategori Detail Informasi 1 Dasar Penetapan Resolusi PBB 28 November 2012 2 Fungsi Ekologis Penyedia Oksigen, Pengatur Iklim, Rumah 80% Biodiversitas 3 Aspek Kemanusiaan 1,6 Miliar orang bergantung pada hutan 4 Dampak Kerusakan Hilangnya 13 juta hektar/tahun & Kontribusi 12-18% Emisi Karbon 5 Fokus Aksi Konservasi, Edukasi, dan Inovasi Teknologi Berkelanjutan  (Foto Hutan Banjarejo Ngawi, sumber google.com)

Catatan Peringatan : Hari Perempuan Internasional dan Peran Strategis Perempuan dalam Demokrasi Lokal

kab-ngawi.kpu.go.id – Ngawi (08/03/2026) – Hari Perempuan Internasional 8 Maret, menjadi momentum refleksi tentang pentingnya kesetaraan peran perempuan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam demokrasi. Perempuan tidak hanya hadir sebagai pemilih, tetapi juga sebagai penggerak pendidikan keluarga, agen perubahan sosial, dan penjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah masyarakat. Di Kabupaten Ngawi, keterlibatan perempuan untuk berpartisipasi dalam bidang kepemiluan terus menunjukkan perkembangan positif. Kehadiran perempuan dalam ruang demokrasi memperkuat kualitas partisipasi publik sekaligus memastikan bahwa suara masyarakat terwakili secara lebih inklusif. Demokrasi yang sehat tumbuh dari partisipasi semua pihak tanpa terkecuali, termasuk perempuan sebagai bagian penting dari kekuatan sosial bangsa. (Foto sumber google.com)

🔊 Putar Suara