Jejak Historis 13 April 2026 (Lahirnya Institut Teknologi Bandung - ITB) Menelusuri Jejak ITB dan Perannya untuk Bangsa kab-ngawi.kpu.go.id, Tanggal 13 April menjadi lembaran penting dalam kalender sejarah Indonesia, khususnya dalam bidang pendidikan. Tepat 67 tahun yang lalu, di bawah langit Bandung yang sejuk, sebuah institusi yang akan menjadi tulang punggung intelektual bangsa resmi berdiri dengan nama Institut Teknologi Bandung (ITB). Peresmian oleh Presiden Soekarno pada tahun 1959 ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan sebuah pernyataan politik tentang kemandirian bangsa. Akar Sejarah: Dari Kolonial Menuju Nasional Jauh sebelum tahun 1959, benih pendidikan teknik di Indonesia sebenarnya telah tertanam sejak 3 Juli 1920 dengan berdirinya Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS). Di sanalah tokoh-tokoh besar, termasuk Ir. Soekarno, menimba ilmu. Namun, pada masa itu, akses pendidikan sangat terbatas dan didominasi oleh kepentingan kolonial. Setelah proklamasi kemerdekaan, pemerintah Indonesia menyadari bahwa kedaulatan tidak cukup hanya dengan pengakuan politik, tetapi juga harus didukung oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peresmian ITB pada 13 April 1959 menandai transisi besar: dari institusi warisan Belanda menjadi institusi nasional yang sepenuhnya berorientasi pada kepentingan rakyat Indonesia. Kampus Ganesha, yang dikenal dengan arsitektur atap bertumpuknya yang khas, menjadi saksi bisu lahirnya berbagai inovasi. ITB tidak hanya mengajarkan teknik sipil atau mesin, tetapi juga menjadi tempat persemaian pemikiran kritis. Para mahasiswa dididik untuk menjadi problem solver bagi masalah-masalah yang dihadapi bangsa, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga kedaulatan energi. Daintara tokoh yang menempuh pendidikan di ITB diantaranya, Presiden pertama RI Soekarno dari Teknik Sipil 1926, B.J. Habibie (Presiden RI), Djuanda Kartawidjaja (Perdana Menteri), Samaun Samadikun (Insinyur ternama Indonesia). Keberadaan ITB memiliki kaitan erat dengan penguatan Nasionalisme dan Demokrasi di Indonesia: Nasionalisme Intelektual Nasionalisme bukan hanya tentang mengangkat senjata, tetapi juga tentang mengangkat derajat bangsa melalui karya. ITB membuktikan bahwa putra-putri Indonesia mampu mengelola teknologi tinggi secara mandiri. Inilah "Nasionalisme Intelektual", sebuah keyakinan bahwa bangsa Indonesia memiliki kecerdasan yang setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Pilar Demokrasi dan Kesadaran Kritis Dalam sistem demokrasi, perguruan tinggi seperti ITB berfungsi sebagai kekuatan penyeimbang dan gudang pemikiran kritis. Demokrasi yang sehat membutuhkan warga negara yang terdidik (smart voters). Mahasiswa dan lulusan ITB sering kali menjadi garda terdepan dalam gerakan pro-demokrasi, memastikan bahwa jalannya pemerintahan tetap berada pada rel kepentingan rakyat. Inklusivitas dalam Pembangunan Semangat ITB yang terbuka bagi seluruh putra-putri terbaik dari Sabang sampai Merauke. Ini mencerminkan nilai demokrasi yang inklusif. Hal ini sejalan dengan tugas kita di KPU, yakni memastikan bahwa setiap individu, tanpa memandang latar belakang, memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi bagi negara, baik melalui inovasi ilmu pengetahuan maupun melalui partisipasi dalam pemilihan umum. Judul Tulisan : Menelusuri Jejak ITB dan Perannya untuk Bangsa Penyusun : Tim Parmas dan SDM KPU Ngawi Gambar : Ilustrasi Soekarno dan Habibi kreasi Gemini