Catatan Peringatan : Hari Film Nasional dan Jejak Sejarah Bangsa dalam Layar Sinema
kab-ngawi.kpu.go.id – Ngawi (30/03/2026) – Peringatan Hari Film Nasional yang jatuh setiap tanggal 30 Maret bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan sebuah penghormatan terhadap identitas budaya dan kedaulatan bangsa melalui media visual.
Sejarah mencatat bahwa film pertama yang diproduksi di Hindia Belanda adalah Loetoeng Kasaroeng (1926), namun film tersebut masih disutradarai oleh orang asing. Titik balik kedaulatan film Indonesia terjadi pada 30 Maret 1950, saat dimulainya pengambilan gambar pertama film "Darah dan Doa" (The Long March of Siliwangi). Film ini menjadi sangat bersejarah karena:
Disutradarai oleh Usmar Ismail, tokoh yang kini dijuluki sebagai Bapak Perfilman Indonesia. Diproduksi oleh Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini). Mengangkat cerita dari sudut pandang perjuangan bangsa sendiri, bukan sudut pandang penjajah.
Penetapan tanggal 30 Maret sebagai Hari Film Nasional secara resmi dikukuhkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 25 Tahun 1999 oleh Presiden B.J. Habibie, dengan tujuan meningkatkan kepercayaan diri serta kualitas film nasional.
Peran Film dalam Pembangunan Bangsa dan Negara
Film memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada sekadar hiburan. Dalam konteks pembangunan nasional, film menjalankan fungsi-fungsi strategis berikut:
1. Penjaga Identitas dan Budaya Bangsa
Film adalah cermin budaya. Melalui narasi, bahasa, dan latar belakang yang ditampilkan, film memperkenalkan kekayaan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda dan dunia internasional. Ini menjadi alat soft power untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global.
2. Media Edukasi dan Literasi Masyarakat
Film berperan sebagai sarana edukasi publik yang efektif. Pesan-pesan moral, sejarah perjuangan, hingga isu-isu sosial seperti toleransi dan lingkungan hidup lebih mudah dicerna oleh masyarakat luas melalui format visual yang menarik dibandingkan sekadar teks teoretis.
3. Penggerak Ekonomi Kreatif
Industri perfilman menyerap ribuan tenaga kerja terampil, mulai dari penulis naskah, aktor, penata musik, hingga teknisi pascaproduksi. Pertumbuhan industri ini berdampak langsung pada peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) dari sektor ekonomi kreatif dan mendorong pariwisata melalui lokasi-lokasi syuting yang ikonik.
4. Perekat Persatuan dan Kesatuan
Dalam keberagaman Indonesia, film sering kali mengangkat tema persatuan. Film bertema nasionalisme membantu memupuk rasa bangga terhadap tanah air dan memperkuat solidaritas antarsuku serta agama, yang merupakan fondasi utama stabilitas negara.
Foto : Pemain Film Pertama